JURNAL REFLEKSI DWIMINGGUAN MODUL 1.1 - MEDIA PENGEMBANGAN LITERASI DAN NUMERASI SMA SWASTA KARANU

Terbaru

Minggu, 30 Juni 2024

JURNAL REFLEKSI DWIMINGGUAN MODUL 1.1

 JURNAL REFLEKSI DWIMINGGUAN MODUL 1.1
"FILOSOFI KIHAJAR DEWANTARA"

oleh 
 Zulkarnain
Guru SMA Swasta Karanu Waikabubak 
Calon Guru Penggerak Angkatan 11 Kabupaten Sumba Barat 


Perkenalkan saya dengan Zulkarnain, asal instansi  SMA Swasta Karanu Waikabubak. Saya merupakan Calon Guru Penggerak  angkatan 11 Kabupaten Sumba Barat. Pada kesempatan ini saya akan memaparkan jurnal dwimingguan modul 1.1. tentang Filosofi Pemikiran Kihajar Dewantara. Tujuan saya menyusun jurnal ini selain memenuhi salah satu tugas Pendidikan Guru Penggerak modul 1.1 juga  bertujuan untuk merenungkan dan memahami lebih dalam tentang pemikiran Filosofi Pendidikan yang digagas Kihajar Dewantara. Tentu hal ini akan membantu saya sebagai calon guru penggerak untuk menginternalisasi nilai-nilai pendidikan holistik dan berpusat pada siswa. 

Dalam Pembuatan Jurnal Dwimingguan ini saya menggunakan model 1 yaitu 4F. Model ini merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Grenaway.

Sebagai awal dari refleksi ini perkenanka saya memaparkan :

1. Fact (Peristiwa) 
Perjalanan saya menjadi guru kurang lebih empat belas tahun. Sejak di bukanya program pendidikan Guru Penggerak oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi pada angkatan pertama dan seterusnya, saya belum memiliki keinginan untuk mengikutinya, saya berasumsi bahwa guru penggerak hanya sebatas program yang apabila menterinya berganti maka kurikulum juga akan berganti, tapi seiring berjalannya waktu saya sadar bahwa menjadi guru tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, guru yang baik adalah guru yang mampu memenuhi kebutuhan belajar murid.  Dari refleksi ini saya tergugah untuk mengikuti pendidikan guru penggerak sehingga saya dapat meningkatkan kompetensi, berkolaborasi dengan teman sejawat serta ikut mengambil bagian dalam transformasi pendidikan saat ini. Sayapun ikut seleksi dan bersyukur lulus pada angkatan 10 namun karena kekurangan Pengajar Praktik Kabupaten Sumba Barat saya mendapat kesempatan mengikuti pendidikan di angkatan 11.

Pada tanggal 13 Juni 2024 tepatnya pada pukul 12.00 Wita saya mengikuti pembukaan PGP yang diselenggarakan oleh kemendikbutristek secara virtual dan dilanjutkan dengan pengarahan dan pembekalan oleh BGP NTT tentang proses pendidikan dan penggunaan LMS (Learning Manajemen Sistem). 
Pada tanggal 14 Juni saya memulai pendidikan  dengan melakukan pretes kemudian saya mengeksplor LMS untuk mengenali materi, teman CGP, PP dan Fasilitator. Kemudian tanggal 20 Juni secara virtual saya bisa berkenalan dengan teman CGP dan PP yang di fasilitasi oleh Fasilitator. Senang bangga dan bahagian bisa hadir karena banyak hal yang saya dapatkan pencerahan dari Fasilitaor dan teman-teman CGP. Kemudian Pada tanggal 22 Juni saya bersama dengan kepala sekolah hadir dalam kegiatan Lokakarya perdana yang berlangsung di Aula SDN Tabolu Dara Weekaraou. Disana saya bertemu dengan banyak teman-teman CGP, sebanyak 53 orang CGP hadir bersama kepala Sekolah, tim BGP NTT,  Kepala Dinas, dan Koordinator Pengawas SMA/SMK Sumba Barat. Banyak hal yang saya dapatkan dari kegiatan tersebut, saya bisa belajar dan berdiskusi dengan teman-teman CGP tentang proses pendidikan yang akan berjalan selama enam bulan kedepan sampai pada kegiatan refleksi yang di pandu oleh Pengajar Praktik. Setelah itu saya belajar mandiri yang difasilitasi oleh fasilitator melalui LMS yang dimulai dari materi Eksplorasi konsep mandiri, forum diskusi, ruang Kolaborasi, demonstrasi kontokstual, elaborasi pemahaman hingga pada kegiatan menyusun Jurnal Refleksi dwimingguan. 
2. Feeling (Perasaa)
Perasaan saya ketika mengikuti kegiatan PGP angkatan 11 ini, saya merasa senang, bangga dan bahagia, saya senang karena saya bisa berjumpa dengan guru-guru hebat di CGP angkatan 11, saya juga berjumpa dengan PP, Fasilitator dan Intruktur. Selain itu saya juga bangga karena tidak semua guru bisa hadir di kegiatan seperti ini, untuk menjadi guru penggerak memerlukan seleksi yang cukup ketat dan proses yang panjang, saya lulus seleksi administrasi dan wawancara setahun yang lalu dan baru bisa mengikuti pendidika pada tahun ini, saya juga bahagia karena bisa belajar banyak hal dalam pendidikan guru penggerak ini. Saya menemukan banyak teman untuk berbagi dan berkolaborasi. Saya percaya melalui proses berbagi dan berkolaborasi akan memperkkaya wawasan saya untuk dapat menyajikan pembelajaran yang bermakna bagi murid saya, dan saya percaya idola itu hadir apabila kita memberikan teladan yang terbaik dan menyajikan pembelajaran yang menyenangkan bagi murid. 

3. Findings (Pembelajaran)
Dari pembelajaran modul 1.1. tentang refleksi pemikiran Kihajar Dewantara ini saya mendapatkan banyak pengetahuan untuk meningkatkan kompetensi saya sebagai seorang pendidik. Menurut pemikiran Kihajar Dewantara sebagai seorang pendidik saya harus mampu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat dengan mengacu pada trilogi pendidikan yaitu Ing Ngarsa Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Dari pembelajaran ini saya baru mengetahui bahwa pengajaran dan pendidikan harus selaras dengan penghidupan dan kehidupan bangsa agar semangat cinta tanah air dapat terus terpelihara. Kihajar Dewantara menekankan agar pendidikan selalu memperhatikan kodrat alam, kemerdekaan, kemanusiaan, kebudayaan dan kebangsaan.  
Semua ini tujuannya yaitu agar terwujud pendidikan yang memerdekakan anak. Oleh karena itu saya harus memberikan kemerdekaan kepada anak-anak dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya, sebab anak bukanlah kertas kosong, melainkan anak itu sebagai kertas putih yang sudah berisi coretan namun masih buram, Tugas saya sebagai guru untuk menjadikan coretan yang buram itu semakin jelas. Artinya setiap anak sudah memiliki bakat dan potensinya masing-masing.  

Selain itu berdasarkan filosofi pendidikan yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara, saya memandang anak sebagai individu yang berbeda dan unik. Setiap anak punya gaya belajar dan potensinya masing-masing. sehingga saya sebagai guru harus melaksanakan pemberlajaran yang berdeferensiasi. Artinya dalam melaksanakan pembelajaran guru harus selalu memperhatikan perbedaan individu dan juga melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada anak. 

Sebaiknya saya sebagai guru harus melakukan asessmen diagnostik awal untuk mengetahui kebutuhan, profil, gaya belajar, metode belajar seperti apa yang mereka inginkan, sehingga saya sebagai guru dapat merancang pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan yang dibutuhkan anak atau dikenal dengan sebutan ‘berhamba pada anak’. Disisi lain, menerapkan budi pekerti yang luhur atau akhlak mulia merupakan keharusan yang tidak terbantahkan dengan cara mengintegrasikan setiap proses pembelajaran dengan pencapaian Profil Pelajar Pancasila yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif

4. Future (Penerapan)
Dari pembelajaran modul 1.1. tentang refleksi Filosofi Pendidikan menurut Kihajar Dewatara memotivasi saya untuk melakukan hal terbaik di dalam kelas untuk mencapai tujuan pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik. Filosofi Pemikiran Kihajar Dewantara memberikan cara pandang kepada saya bahwa siswa bukan seperti kertas putih kosong, mengubah metode dan model pembelajaran di kelas yang memperhatikan kebutuhan siswa, mengubah cara pandang terhadap siswa yang semula berorientasi pada nilai menjadi berorientasi pada proses, merancang dan melakukan asessmen diagnostik awal untuk mengetahui profil siswa.  

Sekian pemaparan saya dalam Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 1.1 Pendidikan  GuruPenggerak Angkatan 11.

Salam dan bahagia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar