Surat Terbuka Siswa kelas XI SMA Swasta Karanu yang tembus Juara dua tingkat Kabupaten Sumba Barat dalam ajang "Sayembara Menulis Surat (SMS) untuk Gubernur dan Wakil Gubernur NTT - MEDIA PENGEMBANGAN LITERASI DAN NUMERASI SMA SWASTA KARANU

Terbaru

Rabu, 09 April 2025

Surat Terbuka Siswa kelas XI SMA Swasta Karanu yang tembus Juara dua tingkat Kabupaten Sumba Barat dalam ajang "Sayembara Menulis Surat (SMS) untuk Gubernur dan Wakil Gubernur NTT

 

SURAT TERBUKA UNTUK GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR
NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)
TEMA: PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

 

     Waikabubak, 21 Maret 2025

Kepada Yang Terhormat: Bapak Melki Laka Lena dan Bapak Jhoni Asadoma
Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur
di-
Kupang

 

Dengan hormat

Perkenalkan saya Juandi Umbu Sogara. Saya adalah salah satu siswa SMA Swasta Karanu Waikabubak Kelas XI. Pertama saya ingin menyampaikan selamat atas pelantikan Bapak Melki Laka Lena dan Bapak Jhoni Asadoma sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTT Periode 2025/2030.

Dengan penuh rasa hormat, sebagai siswa Sekolah Menengah Atas di Nusa Tenggara Timur, kami ingin menyampaikan rasa kegelisahan tentang salah satu aspek budaya yang telah menjadi tantangan bagi kemajuan pendidikan masyarakat kabupaten Sumba Barat, yaitu budaya Pesta perkawinan dan pesta kematian. Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun dan merupakan bagian dari identitas kami di daratan Pulau Sumba, tetapi dalam perkembangannya, budaya ini telah menjadi beban yang berat bagi masyarakat dan menghambat kemajuan pendidikan.

Budaya pesta perkawinan dan pesta kematian di Sumba sering kali menjadi beban dan tekanan ekonomi bagi masyarakat. Hal ini disebabkan oleh tuntutan untuk menyediakan hewan ternak dalam jumlah besar, serta barang berharga seperti emas dan gading, yang nilainya terus meningkat dari waktu ke waktu. Kewajiban adat ini sering kali memaksa keluarga berutang atau bahkan kehilangan aset produktif mereka.

Kami menyadari bahwa adat istiadat merupakan bagian dari warisan budaya yang harus dihormati dan dijaga. Namun, kami juga percaya bahwa budaya harus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Pendidikan adalah kunci utama untuk membebaskan masyarakat dari kemiskinan dan keterbelakangan. Apabila budaya perkawinan dan pesta kematian terus membebani ekonomi keluarga, maka dampaknya tidak hanya terasa dalam lingkup sosial, tetapi juga dalam lembaga Pendidikan di Kabupaten Sumba Barat. Menurut kami banyak anak yang putus Sekolah karena orang tua tidak sanggup lagi menyekolahkan anaknya akibat terjebak dalam utang piutang yang berlebihan dalam budaya perkawinan dan pesta kematian.

Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Yudistira Nugroho mengatakan bahwa salah satu tantangan terberat dalam penyelenggaraan pendidikan di daerah 3T adalah angka putus sekolah yang cukup tinggi, terutama di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). “Ada beberapa faktor penyebab angka putus sekolah termasuk kendala faktor sosial budaya,” katanya pada hari Rabu, 12 Maret 2025 saat rapa kerja bersama anggota DPR RI Komisi X di Gedung Nusantara I DPR RI.

Sementara itu Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade mengatakan, ada 2.551 anak usia sekolah mulai 7-18 tahun di daerah itu yang tidak bersekolah.

"Anak-anak yang tidak bersekolah itu berada pada jenjang pendidikan SD/MI hingga jenjang pendidikan SMA/SMK," kata Yohanis Dade dalam sambutannya pada acara konsultasi publik Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pendidikan Sumba Barat yang berlangsung secara daring, Antara, Jumat, 29 Oktober 2021. 

Berdasarkan data di atas maka melalui surat singkat ini, kami memohon kepada Bapak Melki Laka Lena dan Jhoni Asadoma sebagai Gubernur dan wakil Gubernur terpilih untuk mengambil langkah-langkah strategis guna mengatasi permasalahan ini. Kiranya Gubernur dan Wakil Gubernur dapat berdiskusi dengan pemerintah daerah dalam hal ini Bupati Sumba Barat agar dapat berperan dengan melakukan pendekatan budaya yang bijak, seperti mendorong dialog antara tokoh adat, pemuka agama, dan masyarakat untuk mereformasi sistem adat agar lebih rasional dan tidak memberatkan. Selain itu, penting bagi pemerintah daerah untuk menggalakkan program sosialisasi kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan.

Salah satu faktor terbesar yang menghambat pendidikan di Sumba adalah adanya beban adat yang berat karena masyarakat Sumba masih sangat menjunjung tinggi adat dan tradisi, termasuk dalam upacara adat, pesta kematian (Rambu Solo), serta ritual keagamaan Marapu. Sayangnya, beban ekonomi akibat kewajiban adat sering kali membuat orang tua lebih memprioritaskan adat dibandingkan pendidikan anak-anak mereka. Tidak jarang, anak-anak harus bekerja atau putus sekolah karena keluarga harus mengeluarkan biaya besar untuk memenuhi tuntutan adat.

Foto : Prosesi belis perkawinan dan pesta kematian  di Sumba Barat

 

Untuk mengatasi tantangan ini, kami mengusulkan beberapa langkah yang dapat diambil oleh Bapak Melki Laka Lena dan Jhoni Asadoma sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTT yang memiliki visi membangun NTT melalui Pendidikan.

 

Pertama kami berharap adanya peraturan adat yang lebih fleksibel terkait pemotongan hewan dalam pesta kematian dan budaya belis, dengan menyesuaikan jumlah dan jenisnya agar tidak menjadi beban ekonomi bagi masyarakat. Kedua peran tokoh adat dan pemuka masyarakat sangat diperlukan untuk mengedukasi masyarakat bahwa pesta kematian dan budaya belis seharusnya menjadi simbol penghormatan, bukan ajang pembebanan ekonomi.

Demikian surat ini kami sampaikan dengan harapan besar akan perubahan yang lebih baik. Kami siap mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan pendidikan di NTT khususnya kabupaten Sumba Barat agar generasi mendatang memiliki masa depan yang lebih cerah untuk NTT.

                   Hormat Saya,

                              Juandi Umbu Sogara.

                                          HP. 082235362834

Tidak ada komentar:

Posting Komentar