SURAT
TERBUKA UNTUK GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR
NUSA
TENGGARA TIMUR (NTT)
TEMA:
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Waikabubak, 21 Maret 2025
Kepada
Yang Terhormat: Bapak Melki Laka Lena dan Bapak Jhoni Asadoma
Gubernur
dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur
di-
Kupang
Dengan hormat
Perkenalkan saya Juandi Umbu Sogara.
Saya adalah salah satu siswa SMA Swasta Karanu Waikabubak Kelas XI. Pertama saya
ingin menyampaikan selamat atas pelantikan Bapak Melki Laka Lena dan Bapak Jhoni
Asadoma sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTT Periode 2025/2030.
Dengan penuh rasa hormat, sebagai siswa Sekolah
Menengah Atas di Nusa Tenggara Timur, kami ingin menyampaikan rasa kegelisahan
tentang salah satu aspek budaya yang telah menjadi tantangan bagi kemajuan pendidikan
masyarakat kabupaten Sumba Barat, yaitu budaya Pesta perkawinan dan pesta
kematian. Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun dan merupakan
bagian dari identitas kami di daratan Pulau Sumba, tetapi dalam
perkembangannya, budaya ini telah menjadi beban yang berat bagi masyarakat dan
menghambat kemajuan pendidikan.
Budaya pesta perkawinan dan pesta kematian
di Sumba sering kali menjadi beban dan tekanan ekonomi bagi masyarakat. Hal ini
disebabkan oleh tuntutan untuk menyediakan hewan ternak dalam jumlah besar,
serta barang berharga seperti emas dan gading, yang nilainya terus meningkat
dari waktu ke waktu. Kewajiban adat ini sering kali memaksa keluarga berutang
atau bahkan kehilangan aset produktif mereka.
Kami menyadari bahwa adat istiadat merupakan
bagian dari warisan budaya yang harus dihormati dan dijaga. Namun, kami juga
percaya bahwa budaya harus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Pendidikan
adalah kunci utama untuk membebaskan masyarakat dari kemiskinan dan
keterbelakangan. Apabila budaya perkawinan dan pesta kematian terus membebani
ekonomi keluarga, maka dampaknya tidak hanya terasa dalam lingkup sosial,
tetapi juga dalam lembaga Pendidikan di Kabupaten Sumba Barat. Menurut kami banyak
anak yang putus Sekolah karena orang tua tidak sanggup lagi menyekolahkan
anaknya akibat terjebak dalam utang piutang yang berlebihan dalam budaya
perkawinan dan pesta kematian.
Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi,
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Yudistira Nugroho mengatakan bahwa
salah satu tantangan terberat dalam penyelenggaraan pendidikan di daerah 3T
adalah angka putus sekolah yang cukup tinggi, terutama di tingkat Sekolah Dasar
(SD) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). “Ada beberapa faktor penyebab angka
putus sekolah termasuk kendala faktor sosial budaya,” katanya pada hari Rabu,
12 Maret 2025 saat rapa kerja bersama anggota DPR RI Komisi X di Gedung
Nusantara I DPR RI.
Sementara itu Bupati Sumba
Barat, Yohanis Dade mengatakan, ada 2.551 anak usia sekolah mulai 7-18 tahun di
daerah itu yang tidak bersekolah.
"Anak-anak yang tidak
bersekolah itu berada pada jenjang pendidikan SD/MI hingga jenjang pendidikan
SMA/SMK," kata Yohanis Dade dalam sambutannya pada acara konsultasi publik
Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pendidikan Sumba Barat yang berlangsung
secara daring, Antara, Jumat, 29 Oktober 2021.
Berdasarkan data di atas maka melalui surat
singkat ini, kami memohon kepada Bapak Melki Laka Lena dan Jhoni Asadoma
sebagai Gubernur dan wakil Gubernur terpilih untuk mengambil langkah-langkah
strategis guna mengatasi permasalahan ini. Kiranya Gubernur dan Wakil Gubernur dapat
berdiskusi dengan pemerintah daerah dalam hal ini Bupati Sumba Barat agar dapat
berperan dengan melakukan pendekatan budaya yang bijak, seperti mendorong
dialog antara tokoh adat, pemuka agama, dan masyarakat untuk mereformasi sistem
adat agar lebih rasional dan tidak memberatkan. Selain itu, penting bagi
pemerintah daerah untuk menggalakkan program sosialisasi kesadaran masyarakat
tentang pentingnya pendidikan.
Salah satu faktor terbesar yang menghambat
pendidikan di Sumba adalah adanya beban adat yang berat karena masyarakat Sumba
masih sangat menjunjung tinggi adat dan tradisi, termasuk dalam upacara adat,
pesta kematian (Rambu Solo), serta ritual keagamaan Marapu. Sayangnya, beban
ekonomi akibat kewajiban adat sering kali membuat orang tua lebih
memprioritaskan adat dibandingkan pendidikan anak-anak mereka. Tidak jarang,
anak-anak harus bekerja atau putus sekolah karena keluarga harus mengeluarkan
biaya besar untuk memenuhi tuntutan adat.
Foto
: Prosesi belis perkawinan dan pesta kematian di Sumba Barat
Untuk mengatasi
tantangan ini, kami mengusulkan beberapa langkah yang dapat diambil oleh Bapak Melki
Laka Lena dan Jhoni Asadoma sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTT yang
memiliki visi membangun NTT melalui Pendidikan.
Pertama kami berharap adanya peraturan
adat yang lebih fleksibel terkait pemotongan hewan dalam pesta kematian dan
budaya belis, dengan menyesuaikan jumlah dan jenisnya agar tidak menjadi beban
ekonomi bagi masyarakat. Kedua peran tokoh adat dan pemuka masyarakat sangat
diperlukan untuk mengedukasi masyarakat bahwa pesta kematian dan budaya belis seharusnya
menjadi simbol penghormatan, bukan ajang pembebanan ekonomi.
Demikian surat ini kami sampaikan dengan
harapan besar akan perubahan yang lebih baik. Kami siap mendukung upaya
pemerintah dalam meningkatkan pendidikan di NTT khususnya kabupaten Sumba Barat
agar generasi mendatang memiliki masa depan yang lebih cerah untuk NTT.
Hormat Saya,
Juandi Umbu Sogara.
HP. 082235362834

.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar